Confirmation. 
Foto: Petter Foss /MFA Norway.Confirmation. Foto: Petter Foss /MFA Norway

Gereja Norwegia

Terakhir diperbarui: 06/10/2009 //

Gereja Norwegia merupakan gereja Protestan, dikepalai oleh Raja Norwegia dengan Storting sebagai badan legislatif tertinggi. Sementara keluarga kerajaan memeluk agama Evangelical-Lutheran.

Dalam prakteknya, Raja dalam Dewan bertanggung jawab terhadap kontrol kepemerintahan Gereja secara keseluruhan. Menteri Budaya dan Urusan Gereja memiliki tanggung jawab administratif, sementara Storting (majelis nasional Norwegia) bertanggung jawab mengadopsi perundang-undangan yang berhubungan dengan gereja dan dana. Semua pendeta dan dekan ditunjuk oleh Pemerintah, sementara badan gereja tertinggi adalah Sinode Umum.
 
Masyarakat Norwegia adalah pemeluk Roma Katholik hingga era Reformasi, ketika Protestan muali diadopsi melalui Keputusan Kerajaan pada tahun 1537 dan Gereja Norwegia didirikan. Selama tahun 1700, Gereja Norwegia berada di bawah pengaruh Pietisme, yang merupakan gerakan kebangkitan Lutheran dari Jerman yang berorientasi pada individu, dan menekankan hubungan antara kepercayaan dan tindakan. Aliran Pietisme berupaya secara aktif untuk menyatukan kepercayaan Kristiani dan etika ke dalam kehidupan masing-masing individu, sebagai contoh dengan memperkenalkan upaya pembaptisan (1736) dan Folk School (1739). Selama masa ini, para pengikut aliran Pietisme Norwegia menunjukkan minat yang besar dalam hal kegiatan misionari, terutama di wilayah Greenland dan Sámi di Norwegia Utara.

Lutheran orthodox memegang kuasa tertinggi mulai dari awal tahun 1600, dan untuk jangka waktu yang lama tidak ada agama lain yang diperbolehkan selain Gereja Norwegia. Kebangkitan keagamaan di Norwegia dimulai pada tahun 1800, ketika para pengkotbah umum atau pengkotbah yang belum ditahbiskan menjadi pendeta dan tidak memiliki pendidikan administratif mulai memberikan ceramah Injil tanpa persetujuan dari petugas agama. Larangan terhadap para pengkotbah tersebut diangkat pada tahun 1842. Sementara pengikut aliran Pietisme menjadi semakin kuat dengan adanya kebangkitan evangelis pada tahun 1800, dan memprotes apa yang mereka anggap sebagai para pendeta yang telah ditahbiskan tapi mendalami keagamaan dengan setengah hati. Oleh karena itu, tidak seperti gereja-gereja di Denmark dan Swedia, Gereja Norwegia dalam masa tersebut seringkali dihubungkan dengan aliran Pietisme dan pergerakan para pengkotbah yang belum ditahbiskan menjadi pendeta.

Idealisme pergerakan pengkotbah umum dan interpretasi konservatif tentang Kristiani pelan-pelan mulai mempengaruhi kependetaan Norwegia. Lingkaran Kristiani Norwegia pada tahun 1900 dikarakterisasikan dengan pertentangan antara kelompok liberal dan konservatif, terutama mengenai perbedaan pandangan tentang penelitian sejarah Injil. Namun sejak tahun 1980, berbagai keragaman yang berhubungan dengan gereja dan pendapat teologi mulai bermunculan.

Pengesahan para pengkotbah umum juga membuka jalan ke berbagai macam gereja bebas Kristen. Yang terbesar adalah Pergerakan Pantekosta, dan beberapa gereja bebas besar lainnya termasuk Gereja Bebas Evangelis Lutheran di Norwegia dan Persatuan Baptis Norwegia. Kembali didirikan di Norwegia pada tahun 1850, Gereja Roma Katholik terus berkembang dengan jumlah pengikut yang terus bertambah.


Sumber: Diedit dari Ensiklopedia Norwegia Aschehoug dan Gyldendal   |   Share di jaringan anda   |   print