Angka partisipasi kaum wanita di pasar tenaga kerja Norwegia merupakan salah satu yang tertinggi di Eropa. Menurut data terakhir (2002), sebanyak 77,7% kaum wanita berusia antara 25-66 tahun bekerja, sementara angka persentase untuk kaum pria adalah 86,3 persen. Kaum wanita rata-rata telah mengenyam pendidikan tinggi sejak tahun 1980. Persentasi pelajar wanita di universitas dan akademi Norwegia hampir mendekati 60%, dimana jumlah kaum wanita yang menyelesaikan pendidikan universitas empat tahun lebih tinggi dibanding kaum pria. Pada tahun 2000, sepertiga lulusan program doktor adalah wanita.
Wanita dengan anak balita juga bekerja. Pada tahun 1965, sembilan dari sepuluh kaum ibu dengan anak balita merupakan ibu rumah tanggal. Saat ini, situasi tersebut telah jauh berubah dengan diperkenalkannya sistem kesejahteraan umum dan kebijakan yang ditujukan untuk membantu wanita dan pria menyeimbangkan kebutuhan akan keluarga dan bekerja. Yang merupakan aspek penting dari sistem ini adalah tempat penitipan anak (day-care) yang dibiayai dengan dana umum dan cuti untuk orang tua (termasuk untuk ayah), yang memungkinkan pasangan dengan anak yang baru lahir mengambil cuti dengan gaji hingga kira-kira satu tahun.
Sebanyak 43% wanita bekerja penuh waktu, dibandingkan dengan persentase pria yang hanya 11 persen. Rata-rata jam kerja per minggu adalah 30,4 jam untuk wanita dan 38,4 jam untuk pria. Norwegia masih berusaha mengatasi masalah perbedaan gaji karena jender, dimana besar gaji cenderung lebih rendah di sekotr yang didominasi oleh kaum wanita.
Pasar tenaga kerja Norwegia dapat dikatakan terpisah-pisah berdasarkan jender. Hampir setengah dari semua pekerja wanita bekerja di sektor umum, dengan persentasi mencapai 67,5% pada sektor ini. Di sektor kesehatan dan sosial, yang secara umum terdiri dari layanan masyarakat, sebanyak 83% dari pekerjanya adalah wanita. Sementara di sektor swasta seperti konstruksi dan wiraswasta, jumlah pekerja wanita hanya mencapai 8 persen (semua data dari tahun 2001). Jumlah wanita yang bekerja sebagai pegawai pemerintah mencapai 80 persen.
Minimnya jumlah wanita yang menduduki posisi pengambil keputusan baik di sektor swasta maupun pemerintah hingga saat ini masih menjadi permasalahan nasional. Jumlah wanita yang duduk di posisi direktur dan posisi tinggi lainnya di sektor swasta masih sedikit dan cenderung stagnan. Hanya sekitar 7,4% wanita yang menduduki posisi manajer senior di perusahaan swasta dan 11% menduduki tingkat manajer menengah (data dari tahun 2001). Lebih lanjut, jumlah wanita yang bekerja di industri ICT, tenaga pengajar mata kuliah teknologi dan redaktur surat kabar dan media lain tetap sedikit.
Namun proporsi jumlah wanita yang menduduki jabatan penting di sektor pemerintah lebih tinggi. Sebanyak 36% manajer senior di tingkat administrative pemerintah pusat adalah wanita, sementara yang menduduki jabatan di tingkat administrative pemerintah lokal sebanyak 25 persen.
Semua angka merupakan angka tahun 2002 kecuali dinyatakan secara khusus.