Dengan semakin dekatnya tanggal penyelenggaraan Pemilu yang akan berlangsung pada 9 April, para calon legislatif wanita berupaya maksimal agar mereka dilihat dan didengar oleh pemberi suara. Hal ini merupakan salah satu dorongan tambahan setelah dikeluarkannya peraturan Pengadilan Konstitusi yang menetapkan bahwa calon legislatif yang mendapat suara terbanyak, terlepas dari tempat mereka di daftar partai, akan diumumkan sebagai pemenang.
Peraturan ini merupakan pukulan terhadap upaya mendukung pemilihan calon legislatif wanita, sebagaimana dimaksudkan dalam undang-undang pemilu tahun 2008.
Diluar kemunduran ini, kampanye yang melibatkan masyarakat tetap menawarkan kesempatan bagi calon legislatif wanita. Sementara banyak kandidat masih menggunakan poster, spanduk, dan stiker sebagai sarana promosi, hasil penyelidikan pendapat umum menunjukkan bahwa cara yang disukai oleh para pemberi suara untuk mempelajari lebih jauh tentang para calon legislatif adalah melalui dialog tatap muka dan pertemuan di tingkat daerah.
Kedutaan Besar Norwegia, bekerja sama dengan The Asia Foundation, mendukung pendekatan semacam ini melalui program berkesinambungan dan beragam yang melibatkan pembangunan kapasitas untuk kandidat wanita, membantu kandidat wanita membangun jejaring mereka, dan mengembangkan kampanye media dan pemberi suara yang tajam dan terfokus.
Pada serangkaian pelatihan untuk calon legislatif wanita di akhir tahun 2008, para peserta belajar bagaimana menanggapi isu penting tersebut, serta bagaimana menyiapkan kampanye mereka termasuk mentargetkan pemberi suara dan mengembangkan strategi media yang efektif termasuk pertemuan dengan pemberi suara. Pertemuan-pertemuan ini sedang berjalan dan baik calon legislatif maupun peserta menunjukkan minat yang tinggi. Sementara pertemuan ini efektif bagi calon legislatif untuk bertemu dengan para pemberi suara di wilayah mereka, pertemuan semacam ini juga mendapat sambutan baik dari para peserta. Bagi kebanyakan pemberi suara, inilah pertama kalinya mereka menghadiri pertemuan semacam ini.
Ide debat antar kandidat mulai mendapat perhatian di Indonesia di tingkat nasional sejak tahun 2004, namun diskusi interaktif politik di tingkat daerah masih sangat jarang ditemui. Pertemuan semacam ini disambut dengan antusias, karena untuk pertama kalinya pemberi suara mendapat kesempatan bertanya langsung kepada kandidat, dan mereka dapat menyaksikan sendiri perbedaan gaya, pendekatan, dan gaya tiap calon legislatif.
Pertanyaan yang diajukan umumnya berkenaan dengan akses ke dan kualitas layanan masyarakat, sesuatu yang mempengaruhi kehidupan sehari-hari para masyarakat. Melalui pertemuan semacam ini, pemberi suara dapat bertanya kepada calon legislatif tentang anggaran dan area prioritas di wilayah mereka dimana anggara tersebut akan dibelanjakan. Topik khusus seperti pengembangan program untuk kaum muda serta cara mengatasi masalah seperti kekerasan terhadap wanita juga mendapat perhatian.
Oleh karena itu, sementara juri masih mempertimbangkan bagaiman peraturan Pengadilan Konstitusi akan mempengaruhi jumlah wanita yang duduk di badan legislative, calon legislatif wanita telah mempelopori gaya politik baru di tingkat daerah. Hal ini sendiri merupakan prestasi yang patut dibanggakan, dan membantu memajukan kualitas debat politik di Indonesia.
Calon legislatif wanita dalam pertemuan dengan pemberi suara yang didukung oleh Kedutaan Besar Norwegia, Gowa, Sulawesi Selatan
The Asia Foundation berkomitmen memajukan hak wanita dan meningkatkan peran wanita dalam pembangunan demokrasi dan ekonomi di Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun di Indonesia dan berbagai wilayah di Asia, Asia Foundation bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah untuk mendukung inisiatif inovatif yang meningkatkan partisipasi wanita dalam proses pembuatan kebijakan; meningkatkan jumlah perwakilan wanita di legislatif; mendorong transparansi anggaran dan alokasi anggaran yang sejajar; meningkatkan kesadaran tentang isu jender; dan advokasi untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga dan perdagangan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, klik link ke Asia Foundation.

Calon legislatif wanita dalam pertemuan dengan pemberi suara yang didukung oleh Kedutaan Besar Norwegia, Gowa, Sulawesi Selatan
Tentang Asia Foundation
The Asia Foundation adalah organisasi nirlaba yang berkomitmen terhadap pembangunan wilayah Asia-Pacific. Asia Foundation mendukung program di Asia yang membantu memperbaiki sistem kepemerintahan dan hukum, reformasi ekonomi dan pembangunan, pemberdayaan wanita, dan hubungan internasional. Dengan 17 kantor diseluruh Asia, kantor di Washington D.C., dan kantor pusat di San Francisco, Asia Foundation menangani isu-isu tersebut baik di tingkat wilayah maupun negara.
The Asia Foundation berkomitmen memajukan hak wanita dan meningkatkan peran wanita dalam pembangunan demokrasi dan ekonomi di Indonesia. Dengan pengalaman lebih dari 50 tahun di Indonesia dan berbagai wilayah di Asia, Asia Foundation bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah untuk mendukung inisiatif inovatif yang meningkatkan partisipasi wanita dalam proses pembuatan kebijakan; meningkatkan jumlah perwakilan wanita di legislatif; mendorong transparansi anggaran dan alokasi anggaran yang sejajar; meningkatkan kesadaran tentang isu jender; dan advokasi untuk memerangi kekerasan dalam rumah tangga dan perdagangan manusia. Untuk informasi lebih lanjut, klik link ke Asia Foundation.
Hana A. SatriyoDirector, Gender and Women's ParticipationThe Asia Foundation