Indonesia Memimpin Dunia Menuju Masa Depan

Terakhir diperbarui: 02/03/2011 // "Di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono, Indonesia secara global memimpin jalan dalam hal pembangunan dan perubahan iklim", tulis Menteri Lingkungan dan Pembangunan Erik Solheim dalam artikel yang dipulbikasikan di Jakarta Post 22 Pebruari.

Jalan yang diambil menawarkan satu-satunya harapan untuk menciptakan kemakmuran untuk negara berkembang sambil menghindari bencana perubahan iklim.

 

Ada saatnya upaya menangani perubahan iklim terlihat bertentangan dengan memastikan pertumbuhan ekonomi dan upaya mengentaskan kemiskinan. Namun saya percaya bahwa satu-satunya jalan untuk benar-benar berhasil mencapai tujuan ini adalah berupaya keras untuk mencapai semua tujuan tersebut. Perubahan iklim, kemiskinan, pertumbuhan penduduk, dan ketidakstabilan jumlah persediaan makanan, air dan energi sama-sama saling menguatkan.  Tantangan-tantangan tersebut tidak dapat dipecahkan sendiri-sendiri. Sementara pertumbuhan ekonomi penting untuk mencapai tujuan sosial dan lingkungan, pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan daya saing berkesinambungan hanya dapat dicapai melalui lingkungan yang berkesinambungan dan kebijakan yang ramah iklim.

 

Norwegia, seperti negara-negara lain, harus berupaya keras untuk berubah menjadi masyarakat yang rendah emisi, dan harus memimpin dalam pengurangan emisi domestik. Sebagai negara maju, kami menganggap penting tanggung jawab dalam hal ini. Oleh karena itu kami telah menetapkan tujuan – didukung oleh mayoritas Parlemen – untuk menjadi karbon netral pada tahun 2030. Kontribusi kami terhadap upaya REDD+ Indonesia merupakan tambahan untuk tujuan ini. Kami menghimbau negara maju lainnya untuk menetapkan tujuan yang berani dan menindaklanjutinya dengan tekad penuh.

 

Namun, sebenarnya komitmen dan tindakan dari negara maju sendiri tidak dapat memecahkan tantangan perubahan iklim, bahkan jika semua negara maju menghentikan seluruh emisi hari ini. Negara berkembang juga harus turut bertindak. Kecuali kita semua melakukan tindakan perbaikan dalam skala besar, kerusakan besar di dunia akan mengikuti, memporakporandakan kemajuan pembangunan yang telah berhasil dicapai dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan iklim telah mempengaruhi dunia melalui gelombang panas yang hebat dan sering terjadi, kekeringan, banjir, dan badai tropis. Pada tahun 2010, hutan di Brasil mengalami apa yg digambarkan ilmuwan sebagai kekeringan terburuk dalam 100 tahun. Semua signal menunjukkan bahaya; tindakan tidak dapat lagi ditunda.

 

Dihadapkan dengan kenyataan gamblang tentang perubahan iklim dan akibatnya untuk dunia berkembang, tidak ada negara berkembang yang akan mendapatkan manfaat dari membangun masa depannya berdasarkan ekstraksi sumber daya yang tidak berkesinambungan yang mengarah pada kerusakan lingkungan dan emisi skala besar. Untungnya, bahkan dalam masa sulit sekalipun, selalu ada alternatif. Negara hutan tropis, seperti Indonesia, diberkahi dengan sumber daya alam yang kaya yang dapat mempertahankan sistem penunjang kehidupan baik untuk wilayah maupun dunia.

 

Pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan dapat dibangun melalui penggunaan tanah yang berkesinambungan dan produktifitas pertanian kelas dunia. Penggunaan lahan yang efektif dan transparan serta perbaikan tata kelola pemerintahan dan transparansi dapat dibentuk di semua tingkat pemerintah. Yang dibutuhkan dunia saat ini adalah contoh yang baik tentang bagaimana hal ini dapat dilakukan: Indonesia saat ini dalam proses menjadi contoh yang dibutuhkan.

 

Namun perusahaan swasta mendapat manfaat dari layanan ekosistem yang ditawarkan oleh hutan dan lahan gambut, dan akan merasakan akibat negatif dari perubahan iklim, seperti kurangnya persediaan air dan pola curah hujan yang tidak dapat diandalkan. Saya senang melihat bahwa Sinar Mas, produsen minyak sawit terbesar di Indonesia percaya bahwa produksi minyak kelapa sawit yang berkesinambungan merupakan salah satu perhatian ekonomi mereka, dan telah berjanji untuk tidak menanam di atas lahat gambut, serta tidak menebang hutan dimana karbon yang signifikan terkunci di pohon-pohon.

 

Pembangunan emisi rendah merupakan pilihan fundamental untuk negara yang tidak dapat dipaksakan dari tekanan luar. Norwegia telah berjanji untuk mendukung Indonesia melalui dana sebesar 1 milyar Dolar Amerika dalam beberapa tahun ke depan. Namun, perjanjian antara Indonesia dan Norway hanya mencakup secara tertulis apa yang sudah direncanakan untuk dilakukan Indonesia, di bawah kepemimpinan Presiden Yudhoyono.

 

Tantangan yang dihadapi Indonesia dalam beberapa tahun ke depan – sebagaimana dinyatakan dalam strategi iklim dan hutan – adalah merasionalisasikan penggunaan hutan oleh sektor kehutanan, pertambangan, dan perkebunan untuk memastikan perlindungan dan pengurangan emisi yang lebih efektif dari hutan alam dan lahan gambut, serta penggunaan tanah degradasi yang lebih efektif.

 

Penundaan yang komprehensif untuk melindungi sebagian besar sisa hutan alam dan lahan gambut dari perspektif ini memberikan kesempatan unik bagi Indonesia. Hal ini menunjukkan jalan menuju situasi dimana kesinambungan jangka panjang dari sektor ini dapat dijamin, sehingga memperkuat prospek pertumbuhan jangka menengah dan jangka panjang. Singkatnya, hal ini memberikan kesempatan untuk pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan.

 

Saya sangat percaya bahwa arah yang diambil Presiden Yudhoyono merupakan yang terbaik untuk Indonesia dan wilayah Asia Tenggara, tidak puluhan tahun dari sekarang, namun dalam waktu dekat.

 

Hutan tropis dan lahan gambut menyediakan layanan yang sangat berharga saat ini, baik untuk dunia maupun untuk semua masyarakat Indonesia. Janji pemerintah Indonesia untuk memperbaiki populasi dan memimpin upaya memerangi perubahan iklim merupakan inspirasi untuk dunia. Pemerintah Norway mengagumi komitmen tersebut dan bangga dapat mendukungnya.

 

Ditulis oleh Erik Solheim, Menteri Lingkungan Hidup dan Perkembangan Internasional Kerajaan Norwegia.


Sumber: Artikel ditulis oleh Menteri Lingkungan dan Pembangunan Norwegia Erik Solheim.   |   Share di jaringan anda   |   print