Kesehatan sebagai Kebijakan Luar Negeri

10/07/2009 // Pidato Duta Besar Eivind S. Homme. Showcasing Health as a Foreign Policy Issue on the International Agenda” disampaikan dalam diskusi meja bundar tetang “Peran Kebijakan Luar Negeri dalam Sinergi Kebijakan Kesehatan Global sebagai Realisasi Millennium Development Goals”. Acara ini diselenggarakan oleh Badan Pengembangan dan Analisa Kebijakan, Departemen Luar Negeri Indonesia di Bogor pada 3 Juni 2009.

Yang terhormat Direktur Jenderal Purwandianto, Institut Nasional Kesehatan selaku moderator,
Yang terhormat Duta Besar Tobing, Departemen Luar Negeri; Dr. Salunke, perwakilan WHO di Indonesia; Penasehat Khusus Lukito, Departemen Kesehatan; dan Direktur Soemarno, Departemen Luar Negeri,
Yang terhormat Bapak, Ibu dan Saudara/i sekalian,

 

Selamat pagi,

Terima kasih atas undangan untuk menghadiri pertemuan Kelompok Ahli tentang Kebijakan Kesehatan Global untuk Realisasi Millennium Goals, di Bogor yang indah ini. Tema yang diangkat membuat saya bersemangat menghadiri acara ini, tetapi format pertemuan para ahli membuat saya sedikit khawatir. Namun saya datang dengan komitmen kuat Pemerintah Norwegia untuk mendukung tujuan dari pertemuan ini, dan kerja sama Norwegia dengan Indonesia dalam mempromosikan kesehatan global. Saya berharap presentasi saya dapat menambah pemahaman anda tentang komitmen ini serta tentang pemikiran Norwegia tentang cara mempromosikan Kesehatan sebagai Isu Kebijakan Luar Negeri dalam Agenda Internasional.

Ijinkan saya memulai dengan dimensi kemitraan.

Pada tahun 2006, Menteri Luar Negeri Jonas Gahr Støre mengundang Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, bersama dengan menteri luar negeri dari Brazil, Perancis, Senegal, Afrika Selatan dan Thailand, untuk bergabung menyatakan bahwa kesehatan global merupakan “isu kebijakan luar negeri yang sangat penting saat ini”. Pada bulan Maret 2007, ketujuh menteri ini mengadopsi Deklarasi Oslo yang menyatakan bahwa investasi di bidang kesehatan merupakan hal penting untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan ekonomi. Kerja sama yang dijalin bersifat informal, saling melibatkan dan sangat berguna, tidak hanya berhubungan dengan kegiatan di Geneva, tapi lebih dari itu. Tahun lalu, inisiatif ketujuh Negara memimpin proses yang mengarah pada menyetujui resolusi kesehatan global dan kebijakan luar negeri oleh Majelis Umum PBB dan menempatkan isu ini sebagai pertanyaan politik di tingkat internasional. Kebijakan luar negeri dan kesehatan juga menjadi fokus Annual Ministerial Review ECOSOC pada bulan Juli.

Pada bulan Maret 2007, Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Norwegia Jens Stoltenberg mendiskusikan Health and Development Millennium Goals saat kunjungan perdana menteri ke Jakarta. Hasil diskusi ini menempatkan Presiden Yudhoyono sebagai anggota Jaringan Pemimpin Global. Tahun lalu, pertemuan Sherpa untuk Jaringan ini digelar di Bali, dan bulan lalu mereka kembali bertemu di Oslo, dimana Bapak Emil Salim sekali lagi memainkan peran penting sebagai pemimpin. Jaringan ini baru sajai mengeluarkan laporan tentang Kampanye Global untuk Millenium Development Goals dibidan Kesehatan yang diluncurkan di New York pada 15 Juni, dimana menteri luar negeri Norwegia dan Sekjen PBB diharapkan hadir.

Beberapa hari kemudian pada tanggal 18 dan 19 Juni, Norwegia dan Indonesia bekerja sama menggelar lokakarya di Oslo tentang konvensi senjata biologi dan pemantauan penyakit. Acara ini merupakan tindak lanjut seminar yang berlangsung sukses di Jakarta tahun lalu, yang diselenggarakan bekerja sama dengan PBB dan Badan Kesehatan Dunia. Lokakarya tahun ini akan mengangkat fakta bahwa memperkuat sistem kesehatan dan kapasitas penelitian penyakit merupakan strategi terbaik dalam menghadapi bencana kesehatan yang tidak terduga dan kemungkinan penggunaan senjata biologi. Dalam prosesnya, kami meningkatkan kapasitas kami untuk menghadapi tantangan kesehatan yang dihadapi semua orang setiap harinya.

Sekali lagi Norwegia dan Indonesia bekerja sama di arena internasional, memupuk kemitraan untuk memimpin negara-negara lain yang memiliki agenda yang sama di bidang kesehatan global, seperti yang telah kita lakukan dalam hal senjata nuklir dan pelucutan senjata, perubahan iklim dan lingkungan, perdamaian, HAM dan pembangunan demokrasi, serta berbagai agenda hubungan bilateral lainnya.

Tetapi mengapa menempatkan Kesehatan sebagai Isu Kebijakan Luar Negeri?

Di forum ini saya percaya kita semua setuju bahwa kesehatan merupakan investasi untuk martabat manusia, pembangunan manusia – dan oleh karena itu juga berhubungan dengan pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, komunitas dan bangsa. Investasi di bidang kesehatan merupakan alat yang sangat kuat untuk memerangi kemiskinan. Ancaman terhadap kesehatan dapat mempengaruhi stabilitas dan keamanan sebuah negara. Pembangunan kapasitas untuk keamanan kesehatan global, menghadapi ancaman terhadap kesehatan global dan memastikan globalisasi bermanfaat bagi semua orang – kesemuanya ini tergantung pada penggunaan instrumen kebijakan luar negeri – dan komitmen politik.

Kesehatan mewakili cerita yang paling kuat dalam hal globalisasi. Munculnya kasus pandemik yang baru-baru ini terjadi di Amerika Serikat segera menimbulkan tantangan bagi hubungan diplomatik dan sistem keamanan, dan permintaan akan badan koordinasi internasional langsung melonjak. Tanpa mereka, kita tidak memiliki koordinasi untuk menutup perbatasan dan mungkin akan mengacaukan tindakan pencegahan di tingkat nasional, dengan ratusan ribu orang yang akan jatuh menjadi korban.

Oleh karen aitu kesehatan global lebih dari sekedar ‘isu’; kesehatan global berhubungan dengan mengelola hubungan internasional yang kompleks, prinsip-prinsip penting dan tantangan tentang ketidaksetaraan dan ketidakadilan. Kesehatan global melibatkan merubah prioritas ekonomi dan membangun organisasi serta hubungan kemitraan. Pendek kata: “Kita harus berupaya semaksimal mungkin utnuk memenuhi tugas kita.”

Ijinkan saya menyampaikan beberapa kata tentang pendekatan Norwegia:

Kesehatan selalu memainkan peran penting dalam kebijakan pembangunan kami, dan upaya ini telah kami tingkatkan sejak tahun 2000. Norwegia berfokus untuk memimpin dalam tiga inisiatif nyata:

Pertama adalah GAVI, gabungan dari organisasi PBB, pemerintah di negara berkembang dan negara maju, industri vaksin, dan sektor swasta seperti Bill and Melinda Gates Foundation. Perdana Menteri Jens Stoltenberg merupakan perdana menteri pertama yang melibatkan pemerintahnya secara aktif dalam upaya ini, dan sejak saat itu Norwegia menjadi pendukung setia upaya ini dengan visi ambisius untuk membantu tiap anak di seluruh dunia mendapatkan imunisasi. Ini merupakan cara kerja baru, berdasarkan pada kemitraan publik-swasta, yang memfokuskan pada kinerja dan insentif baru bagi para mitra untuk bekerja sama.

WHO memperkirakan bahwa antara tahun 2000 dan 2008, sekitar 3,4 juta kematian berhasil dicegah melalui kampanye imunisasi yang didukung oleh GAVI. Benar hal ini merupakan sebuah sukses, namun kita harus terus melakukan perbaikan, bertanggung jawab dan transparan, serta kedepannya siap untuk melakukan penyesuaian.

Kedua, Norwaegia aktif terlibat dalam Global Fund untuk memerangi AIDS, tuberkulosis dan malaria – sejak organisasi ini didirikan. Seperti Anda ketahui, Global Fund juga merupakan gabungan dari pemerintah, sektor swasta dan dukungan dari WHO, UNAIDS dan Bank Dunia.

Kita melihat peningkatan jumlah perawatan, konseling dan pencegahan HIV/AIDS. Sebanyak 70 juta kelambu telah dibagikan, dimana kelambu merupakan cara pencegahan malaria yang paling murah. Di samping itu sebanyak 74 juta kasus malaria mendapatkan perawatan, serta sebanyak 4,6 juta kasus baru tuberkulosis dapat dideteksi dan mendapatkan perawatan. Saat ini kita berdiri di ambang babak baru perang melawan malaria – yang sejak lama telah menjadi fokus upaya kesehatan global – dan rasa frustrasi.

Dan ketiga, lebih terkait dengan metodologi, kita berhasil mendorong manajemen yang lebih berfokus pada hasil. Isu kesehatan global memotong struktur organisasi tradisional dalam urusan internasional – dan oleh karena itu harus ditanggapi dengan baik. UNAIDS didirikan untuk bekerja melalui organisasi yang menjadi sponsornya dalam sistem PBB, serta membentuk kemitraan dengan berbagai LSM, pemerintah dan pemain penting lainnya. Roll Back Malaria dan Stop TB merupakan bentuk kemitraan lain yang dibentuk dalam badan WHO.

Transparansi dan akuntabilitas merupakan hal penting, dan keduanya menjadi lebih sulit untuk dicapai dalam landskap yang lebih kompleks saat ini. Untuk menjaga kepercayaan para pembayar pajak dan investor swasta, kita harus selalu memperbaiki metode kita – bagaimana kita membelanjakan anggaran kita, cara memonitor dan malapor.

Dalam menghadapi berbagai tantangan ini, perlu saya sampaikan bahwa beberapa hasil yang luar biasa telah dicapai dalam dekade ini:

Lebih dari 200 juta anak-anak dari negara miskin telah mendapatkan vaksinasi yang sebelumnya tidak tersedia.
Lebih dari 100 juta kelambu telah dibagikan ke sub-Sahara Afrika. Kami berharap angka kematian karena malaria dpat ditekan lebih dari 90% di tahun 2015.

Biaya perawatan penderita AIDS berhasil ditekan dari lebih dari 30 dolar Amerika per hari menjadi kurang dari 30 dolar Amerika per hari. Lebih dari tiga juta penderita sedang menjalani perawatan saat ini.

Sebagai ringkasnya: GAVI dan Global Fund telah menyelamatkan 6 juta nyawa dengan jumlah investasi sebesar 9 milyar dolar Amerika.

Kemudian beberapa orang bertanya: “Bukankah kita menghadapi resiko hilangnya konsistensi dalam upaya kita memajukan kesehatan global jika kita hanya berkonsentrasi pada beberapa penyakit? Dan bukankah kita menghadapi resiko hilangnya pandangan luas dengan bentuk kemitraan yang kompleks, dan tidak ada yang berperan sebagai koordinator?”

Semua pertanyaan tersebut penting dan jawaban yang diberikan seharusnya tidak berupaya memotong debat tersebut menjadi debat pendek. Hal ini berhubungan dengan matriks intervensi horisontal dan vertikal – dan pengaturan kesehatan global dimana kontribusi  sukarela melebihi anggaran PBB.

Pendekatan Norwegia yang konsisten – sebagaimana kita mendukung kemitraan baru dan cara baru untuk bekerja – adalah tetap berfokus pada kebutuhan untuk memperkuat PBB dan WHO – serta menjaga agar PBB tetap sebagai pusat penerapan standard an badan normatif.

Ijinkan saya meneruskan dengan Millennium Development Goals dan menjelaskan beberapa kemajuan yang berhasil kita capai.

Norwegia menjadikan MDG sebagai panduan untuk upaya kerja sama pembangunan secara keseluruhan – yang saat ini telah mencapai tujuan yang ditetapkan pada tahun 2005: 1% dari GNI. Tiga dari tujuan MDG berfokus pada kesehatan, dan di bidang inilah kita berupaya memaksimalkan kontribusi Norwegia.

Kemajuan penting telah berhasil dicatat untuk MDG 6, dalam mencegah penyebaran HIV/AIDS, tuberkulosis dan malaria, serta memastikan perawatan yang efektif tersedia bagi semua penderita.  MDG 4 mencatat beberapa sukses dalam hal menurunkan angka kematian balita, terutama dengan diberlakukannya kampanye imunisasi. Namun masih banyak anak-anak yang meninggal karena penyakit yang sebenarnya mudah untuk dicegah. Hal ini tidak melibatkan teknologi tingkat tinggi. Hal ini hanya melibatkan teknologi tingkat rendah.

Kontras dengan cerita sukses tersebut, kita mengalami kegagalan dalam MDG 5 dalam mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Tujuan yang ditetapkan di tahun 2000 adalah mengurangi angka kematian ibu sebanyak tiga perempat pada tahun 2015 dan memastikan kesehatan reproduksi tersedia untuk semua ibu.

Saat ini, satu anak dan delapan bayi yang baru lahir meninggal setiap menitnya – tidak berbeda dengan situasi 10 tahun lalu. Tentunya angka tersebut sangat buruk. Hari pertama dari kehidupan seorang bayi adalah hari yang paling berbahaya dan untuk jutaan wanita, tidak ada yang lebih berbahaya dibandingkan dengan melahirkan.

Dalam hal kesehatan reproduksi, kemajuan telah dicapai dalam hal ketersediaan layanan kehamilan, namun kebutuhan keluarga berencana yang belum terjawab mempengaruhi tujuan lainnya.

Apa yang menjadi alasan utama? Hal ini menyangkut diskriminasi terhadap wanita dan kebutuhan ekonomi, sosial dan gizi yang tidak terpenuhi – serta kurangnya ketersediaan layanan kesehatan yang berkualitas.

Bahkan ketika layanan kesehatan tersedia, seringkali tidak menjawab kebutuhan wantia dan sulit dijangkau.

Kita harus mencari cara mudah untuk menjawab permasalahan ini – berbicara dengan wanita hamil, mengikuti tahap kehamilan mereka dengan bantuan yang cukup untuk memastikan mereka selamat saat melahirkan.

Bagaimana menanggapi hal ini kedepannya?

Mempromosikan sistem kesehatan yang efektif dan hidup adalah dan akan menjadi hal yang sangat penting. Untuk mencapai Millennium Development Goals di tahun 2015, kita harus melakukan lebih banyak hal untuk wanita dan anak-anak. Melakukan investasi lebih banyak dan menjalin kerja sama yang lebih erat.

Satu tantangan besar adalah keuangan – terutama karena saat ini kita berada di tengah-tengah krisis keuangan. Dana bantuan dan bantuan dari pihak swasta untuk mendukung tujuan ini telah dikurangi – walaupun hal ini disesalkan. Kita perlu melindungi sektor kesehatan semampu kita.

Kesehatan merupakan isu yang terlalu penting untuk hanya diserahkan kepada menteri. Peran menteri keuangan, perdana menteri, presiden, dan menteri luar negeri juga dibutuhkan. Krisis keuangan global saat ini berkembang menjadi krisis ekonomi global. Kita harus mencegahnya agar tidak berkembang menjadi resesi sosial. Di Eropa, saat ini sedang diupayakan berbagai usaha untuk mengidentifikasi mekanisme pendanaan inovatif untuk membantu mencapai tujuan-tujuan tersebut. Kita perlu mengembangkan kesempatan baru. Sebagai contoh, UNITAID menerima tambahan dana dari pajak penjualan tiket pesawat dan Norway mendukung inisiatif baru yang dapat menstimulasi mekanisme pendanaan inovatif lainnya – dari pemerintah maupun individu.

Lebih lanjut – sebagaimana saya kemukakan di awal pidato – kita harus melihat kebijakan luar negeri secara lebih luas melalui “lensa kesehatan”. Inisiatif Kebijakan Luar Negeri dan Kesehatan Global kesemuanya merupakan komitmen dan sosialisasi, membangun aliansi politik antar negara dengan pandangan dan prioritas yang berbeda, namun dengan komitmen politik yan kuat dan konsistensi untuk mempromosikan kesehatan global.

Tantangan dalam agenda kesehatan merupakan tantangan global. Indonesia dan Norwegia harus terus bekerja sama dalam menghadapi tantangan ini. Pertemuan anda hari ini penting untuk menemukan persamaan dan bagaimana menanggapi hal ini di masa depan.

Terima kasih atas perhatian anda.


Share di jaringan anda   |   print