Hal ini menghasilkan dibentuknya negara independen Timor-Leste pada tanggal 20 Mei 2002, setelah administrasi transisi dengan PBB. Sayangnya, beberapa hari setelah konsultasi tersebut menjadi hari yang traumatis bagi masyarakat Timor-Leste – dengan banyaknya korban jiwa dan rusaknya bangunan serta infrastruktur oleh militer dan pihak lain yang tetap menginginkan Timor-Leste bersatu dengan Indonesia.

Perdana Menteri Xanana Gusmao bersama dengan Country Director UNDP Timor-Leste dan Head of Mission Kedutaan Norwegia di Dili, Hans Peter Christophersen saat resepsi peringatan 10 tahun
| Peringatan 10 tahun referendum ditandai dengan serangkaian acara, dengan perayaan utama jatuh pada tanggal 30 Agustus 2009. Acara yang berlangsung di depan istana presiden yang baru diwarnai dengan upacara pengibaran bendera dan parade militer, serta dihadiri oleh banyak tamu asing; menteri luar negeri Indonesia, gubernur Australia, presiden parlemen dan menteri luar negeri Portugis, perdana menteri Cuba, Ian Martin atas nama Sekretaris Jenderal PBB dan UN High Commissioner for Refugees Guterres, mantan perdana menteri Portugal. Dalam acara khusus tersebut diberikan penghargaan kepada 48 individu, termasuk sejumlah tamu asing. Acara malam hari merupakan acara budaya. |
 Delegasi Norway saat Upacara Nasional di Istana Presiden di Dili. |
| Norway diwakili oleh Duta Besar Homme, perwakilan khusus Stålsett dan ketua seksi kedutaan, Christophersen. Perdana Menteri Stoltenberg juga memberikan surat ucapan selamat. Dalam pidatonya, Presiden Ramos-Horta mengucapkan terima kasih kepada masyarakat internasional, termasuk Norway, atas dukungan mereka terhadap Timor-Leste. |
 Presiden Ramos-Horta mengamati pasukan militer dan polisi Timor Leste saat upacara pengibaran bendera |