Refleksi Rekonstruksi Tsunami

08/01/2009 // Penulis bulan ini, Dr Kuntoro Mangkusubroto, adalah Direktur Badan Rehabilitasi dan Konstruksi Aceh-Nias (BRR).

Saat orang-orang di seluruh dunia merayakan dan menyambut Tahun Baru, saya merenungkan empat tahun terakhir.

Bagi saya, empat tahun terakhir adalah tahun-tahun paling sulit dalam membantu masyarakat Aceh pulih dari tsunami yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 dan masyarakat Nias pulih dari gempa bumi yang menghantam pulau mereka di bulan Maret tahun berikutnya.

Bencana ini merupakan bencana alam dengan dampak yang sangat luas, yang terbesar dalam catatan sejarah.

Ratusan ribu jiwa menjadi korban, sementara sekitar setengah juta orang hilang, menyapu bersih bangunan pemerintah dan pribadi sepanjang 800 kilometer garis pantai, tidak termasuk pulau-pulau dan perubahan sumber pendapatan yang menjadi tumpuan masyarakat.

Tantangan yang dihadapi dalam proses pemulihan tidaklah mudah. Namun, seperti yang telah kita tunjukkan dalam empat tahun terakhir, hal tersebut dapat dicapai.

Dengan bantuan keuangan dan teknis dari masyarakat internasional, termasuk Norwegia, kami telah membangun kembali – dan dengan standar yang lebih baik dari sebelum tsunami dan gempa bumi.

Angka yang ditunjukkan sangatlah mengagumkan: 118.000 rumah baru, jalan sepanjang hampir 3.000 km, lebih dari 100.000 hektar tanah pertanian yang diperbaiki, lebih dari 900 pusat kesehatan dan masih banyak lagi. Semuanya dibangun dalam waktu kurang dari empat tahun.

Cerita sukses ini masih berlanjut. Para wanita sekarang diberdayakan sebagai penanggung jawab properti. Kepemilikan properti juga ditawarkan kepada penyewa dan penghuni liar. Sawah yang telah direhabilitasi menghasilkan panen yang lebih banyak dibanding sebelum tsunami. Jalan dan pelabuhan yang telah diperbaiki membantu meningkatkan jumlah ekspor kopi. Hasil tangkapan para nelayan juga menggembirakan. Dan akses ke layanan kesehatan merupakan yang terbaik di Indonesia.

Hasil yang cukup baik ini dicapai dalam waktu empat tahun yang singkat. Tapi bagaimana kita mencapai semua ini? Inilah pertanyaan yang paling sering kami terima, terutama karena BRR akan segera mengakhiri masa tugasnya pada 15 April tahun ini. Ini juga pertanyaan yang kerap saya tanyakan pada diri sendiri.

Mendirikan satu-satunya badan pemerintah – yaitu BRR – untuk mengkoordinasi program rekonstruksi secara keseluruhan merupakan ide yang jenius. Hal ini memungkinkan kami mempercepat proses rekonstruksi dengan menghilangkan kekusutan birokrasi.

Tapi ini hanya awal cerita. Dana yang kami terima juga sangat membantu – keseluruhan berjumlah 7 milyar Dolar Amerika!

Kami tidak mungkin mencapai sejauh ini jika masyarakat dunia tidak bermurah hati dengan bantuan keuangan yang mengucur melalui PBB dan berbagai badan lainnya seperti ADB dan Bank Dunia, melalui kontribusi bilateral termasuk bantuan dana yang dikumpulkan melalui Multi Donor Fund, serta melalui berbagai badan LSM internasional yang bekerja tanpa lelah.

Mengkoordinasi ribuan proyek yang dijalankan 50 mitra bilateral, berbagai badan multilateral serta lebih dari 600 LSM bukanlah tugas yang mudah. Kontribusi Norwegia merupakan bantuan yang memungkinkan koordinasi berjalan dengan baik.

Norwegia merupakan anggota pendiri Multi Donor Fund. Fasilitas pengumpulan dana ini menampung lebih dari 700 juta Dolar Amerika yang mendanai program seperti WFP Shipping Service dan bantuan teknis untuk BRR, yang telah mengangkat standar program rekonstruksi secara keseluruhan. Hal ini memberikan platform strategis untuk keterlibatan dalam diskusi serius dengan kelompok inti mitra bilateral, diantaranya Norwegia.

Tidak kalah penting adalah bantuan dana langsung dari Norwegia untuk Kantor Koordinator Pemulihan PBB untuk Aceh dan Nias (Office of the UN Recovery Coordinator for Aceh and Nias atau UNORC).

Norwegia telah menjadi pemimpin global dalam hubungan sistem PBB – singkatnya dikenal dengan konsep “Satu PBB”. Norwegia memiliki sejarah panjang dalam mempromosikan pengembangan pendekatan yang lebih terintegrasi untuk pelaksanaan program PBB.

Dalam kasus kami, Norwegia mengucurkan dana sebesar 2,5 juta Dolar Amerika untuk keberlangsungan UNORC, saat kantor ini nyaris ditutup karena kekurangan dana. Pentingnya hal ini serta keberadaan UNORC tidak dapat dilihat dengan sebelah mata.

UNORC dibentuk atas permintaan saya dan dengan mandat untuk membantu kami mengkoordinir tidak hanya input dari sekitar 30 badan PBB, program dan dana, tetapi juga kegiatan lapangan dari berbagai mitra kami. UNORC juga bertindak sebagai teman bicara antara badan saya dengan pemerintah Aceh dan Nias.

Salah satu kontribusi UNORC adalah penciptaan dan dukungan untuk Forum Pemulihan Kabupaten dan Kota (FPKK). Hal ini mengisi kekosongan dengan membantu pemerintah setempat turut terlibat serta mengkoordinasi input dan kegiatan dari berbagai stakeholders di wilayah mereka. FPKK tidak akan ada tanpa dukungan keuangan Norwegia.
Berbicara tentang koordinasi adalah satu hal – dan banyak orang melakukannya – tapi mendanainya adalah cerita lain. Norwegia melakukan keduanya dan dalam prosesnya mendemonstrasikan bahwa tindakan berbicara lebih keras dibandingkan kata-kata.

Inilah alasan mengapa program rekonstruksi berjalan sukses. Program ini merupakan hasil kerja sama tim. Melalui kerja sama dengan berbagai kemitraan di berbagai area dan di berbagai tingkat, kita telah menunjukkan dunia bahwa program pemulihan yang dilakukan dalam waktu singkat setelah bencana alam terjadi dapat dicapai.

Ini adalah hadiah bersama tidak hanya untuk masyarakat Aceh dan Nias. Sebagaimana kita memasuki tahun 2009, ini adalah hadiah kami untuk dunia – hadiah optimisme dan harapan bahwa dengan bekerja sama kita dapat mengubah suatu tragedi menjadi kemenangan.

Dr Kuntoro Mangkusubroto
Direktur, Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias
Jakarta, 1 Januari 2009

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dr Kuntoro Mangkusubroto ketika memberikan konperensi pers di markas PBB, New York, bulan Nopember 2007.


Share di jaringan anda   |   print